Don't forget to Follow me @maya.rsmynt on instagram
AIR MATA MALAM MINGGU
Brukk ,, kuhempaskan tubuhku duduk dikursi kamarku.
Peluhku menetes membasahi baju biruku. Kulepas sepatu dan ku letakkkan pada rak
sepatu. Tiba – tiba aku tersenyum, mengingat bahwa sekarang adalah malam
minggu. Jantungku berdegup kencang bagai dikejar – kejar harimau. Hmmt,
sebentar lagi adalah hari spesial ku. Aku Maya, aku baru saja pulang dari
lapangan Tangkisan habis bermain kasti bersama teman – temanku. Aku lelah, aku
lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan menyegarkan tubuhku. Aku senang,
malam ini Arif mengajakku belajar kelompok dirumahku pukul 19.00. arif adalah
sahabatku dari kecil. Ia juga banyak bercerita tentangnya padaku. Tanpa
kelamaan aku mengagumnya, karena ketampananya. Tapi,aku juga sering kesal
padanya, ia sering menyuruhku – nyuruhku dalam banyak hal, ia juga sering
membohongiku. Tapi,tidak apa pikirku.
Aku sudah menunggunya di ruang
tamu, semua perlengkapan untuk belajar sudah ku persiapkan. Jam dinding sudah
menunjukkan angka 19.35, tapi ia belum datang juga. Mungkin ia masih dalam
perjalanan. Kulihat jendela keluar, tapi belum juga ada tanda – tanda
kedatangannya. Kupandangi jam tanganku sudah menunjukkan angka 20.20 namun ia
belum datang juga. Pikirku mulai kecewa. Mungkin aku dibohonginya lagi. Aku
berlari menuju kamar dan menghempaskan tubuhku di tempat tidur.
Air mataku mulai menetes, tiba –
tiba ada suara motor berhenti di depan rumahku. Aku pun segera mengusap air
mata di pipiku. Kulihat dan kupandanginya. Benar,, ternyata itu Arif. Tapi aku lebih terkejut lagi karena ada sesosok
gadis yang duduk dimotor Arif. Itu Nita, teman sekelasku. Nita tersenyum
padaku. Kupaksakan juga aku untuk
tersenyum, walau sebenarnya hari ini menangis.
Kupikir Arif akan mampir ke rumahku
untuk mengerjakan tugas – tugasnya. Ternyata aku salah. Ia hanya memberikan
tumpukan tugas – tugasnya yang banyak itu padaku. Aku memaksakan diri tertawa
di depannya, padahal rasanya ingin sekali ku robek – robek semua buku – buku
miliknya. Belum ada satu menit, ia langsung pergi kencan bersama Nita berboncengan
naik motor. Setelah ia pergi, ku lemparkan buku – buku miliknya ke lantai.
“ Brukk “
“ kau egois ! “
“ kau tak punya
perasaan ! “
“ kau pikir aku
ini pembantumu, seenaknya saja kau menyuruhku sesuka hatimu ! “
“ aku benci
kamu Arif ! “
Dalam
perasaan kacau balau, air mataku menetes deras dipipiku. Tak kuasa menahan rasa
sakit dipikiranku. Hingga pukul 21.00 air mataku masih saja menetes, tissue
dikamarku hampir habis untuk mengusap air mataku. Dalam pikirku untuk apa aku
mengerjakan tugas – tugasnya, toh selama ini ia tidak peduli dengan apa yang
telah kuberi. Ia selalu menggap bahwa ia adalah yang paling benar. Dia hanya
memikirkan kesenangannya saja. Yang selalu berkala namun tidak pernah ia
seperti. Hujan gerimis malam ini juga turun, bercampur dengan kesedihan.
Paginya aku berangkat sekolah seperti biasanya.
Di halaman sekolah Arif menemuiku dengan ramah.
“ Mana tugasku
?” tanya Arif
“ Tugas apa ?”
jawabku
“ Ach kamu
jangan bercanda dong ! “ pintanya
“ Tugas apa?
Apa kamu mengerjakannya ?” jawabku cuek
“ Yang tadi
malam !” Ia cemas
“ Aku tidak
mengerjakannya. Untuk apa ? Aku lelah mengerjakan tugasmu, lalu kau bersenang –
senang ! Itu mau mu ?” tegasku
“ Ya maaf aku
tidak sengaha !” kata Arif
“ Aku tidak
peduli .. kamu egois. Kamu tak punya perasaan.” Jawabku. Laluaku
meninggalkannya.
Saat pulang sekolah aku
menceritakan kejadia semua itu kepada Ipah, teman sebangkuku. Ipah hanya
tersenyum. Ia mengerti keadaank. Dan ia menghibur serta menasihatiku tentang
jalan dari masalahini. Setelah kupikir – pikir aku baru menyadari bahwa selama
ini akuhanya dijadikan pelampiasan dan pembantu Arif. Aku hanya dimanfaatkan
saja. Dengan berpura – pura pehatian padaku, ternyata ia hanya berambisi saja.
Kini aku tak akan mau menjadi suruhan Arif untuk mengenai tugas sekolah.
Terserah apa katanya.
Sekarang aku menerima kenyataan
salah hidupku. Bahwa menuruti keinginan sendiri itu tak selalu berjuang indah.
Dan untuk saai ini aku akan selalu berfikir sebelum bertindak. Hatiku mulai
sedikit lega. Huh ,, senangnya.
Saat disekolah Arif bertanya –
tanya padaku mengapa akhir- akhir ini aku cuek padanya, tak seperti hari – hari
biasa. Aku hanya tersenyum, dan menjelaskan semuaitu padanya. Ia tersenyum malu
dan ia juga sempat minta maaf padaku. Pada akhirnya kami berteman seperti
layaknya teman biasa. Pikirku lega..
SELESAI ...
TERHARU. TERIMAKASIH :)
BalasHapus