Senin, 27 Januari 2014

Cerpen Remaja


Don't forget to Follow me @maya.rsmynt on instagram

                                         AIR MATA MALAM MINGGU

Brukk ,, kuhempaskan tubuhku duduk dikursi kamarku. Peluhku menetes membasahi baju biruku. Kulepas sepatu dan ku letakkkan pada rak sepatu. Tiba – tiba aku tersenyum, mengingat bahwa sekarang adalah malam minggu. Jantungku berdegup kencang bagai dikejar – kejar harimau. Hmmt, sebentar lagi adalah hari spesial ku. Aku Maya, aku baru saja pulang dari lapangan Tangkisan habis bermain kasti bersama teman – temanku. Aku lelah, aku lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan menyegarkan tubuhku. Aku senang, malam ini Arif mengajakku belajar kelompok dirumahku pukul 19.00. arif adalah sahabatku dari kecil. Ia juga banyak bercerita tentangnya padaku. Tanpa kelamaan aku mengagumnya, karena ketampananya. Tapi,aku juga sering kesal padanya, ia sering menyuruhku – nyuruhku dalam banyak hal, ia juga sering membohongiku. Tapi,tidak apa pikirku.
Aku sudah menunggunya di ruang tamu, semua perlengkapan untuk belajar sudah ku persiapkan. Jam dinding sudah menunjukkan angka 19.35, tapi ia belum datang juga. Mungkin ia masih dalam perjalanan. Kulihat jendela keluar, tapi belum juga ada tanda – tanda kedatangannya. Kupandangi jam tanganku sudah menunjukkan angka 20.20 namun ia belum datang juga. Pikirku mulai kecewa. Mungkin aku dibohonginya lagi. Aku berlari menuju kamar dan menghempaskan tubuhku di tempat tidur.
Air mataku mulai menetes, tiba – tiba ada suara motor berhenti di depan rumahku. Aku pun segera mengusap air mata di pipiku. Kulihat dan kupandanginya. Benar,, ternyata itu Arif. Tapi aku lebih terkejut lagi karena ada sesosok gadis yang duduk dimotor Arif. Itu Nita, teman sekelasku. Nita tersenyum padaku. Kupaksakan juga aku untuk  tersenyum, walau sebenarnya hari ini menangis.
Kupikir Arif akan mampir ke rumahku untuk mengerjakan tugas – tugasnya. Ternyata aku salah. Ia hanya memberikan tumpukan tugas – tugasnya yang banyak itu padaku. Aku memaksakan diri tertawa di depannya, padahal rasanya ingin sekali ku robek – robek semua buku – buku miliknya. Belum ada satu menit, ia langsung pergi kencan bersama Nita berboncengan naik motor. Setelah ia pergi, ku lemparkan buku – buku miliknya ke lantai.
     “ Brukk “
     “ kau egois ! “
     “ kau tak punya perasaan ! “
     “ kau pikir aku ini pembantumu, seenaknya saja kau menyuruhku sesuka hatimu ! “
     “ aku benci kamu Arif ! “
                   Dalam perasaan kacau balau, air mataku menetes deras dipipiku. Tak kuasa menahan rasa sakit dipikiranku. Hingga pukul 21.00 air mataku masih saja menetes, tissue dikamarku hampir habis untuk mengusap air mataku. Dalam pikirku untuk apa aku mengerjakan tugas – tugasnya, toh selama ini ia tidak peduli dengan apa yang telah kuberi. Ia selalu menggap bahwa ia adalah yang paling benar. Dia hanya memikirkan kesenangannya saja. Yang selalu berkala namun tidak pernah ia seperti. Hujan gerimis malam ini juga turun, bercampur dengan kesedihan.
Paginya aku berangkat sekolah seperti biasanya. Di halaman sekolah Arif menemuiku dengan ramah.
     “ Mana tugasku ?” tanya Arif
     “ Tugas apa ?” jawabku
     “ Ach kamu jangan bercanda dong ! “ pintanya
     “ Tugas apa? Apa kamu mengerjakannya ?” jawabku cuek
     “ Yang tadi malam !” Ia cemas
     “ Aku tidak mengerjakannya. Untuk apa ? Aku lelah mengerjakan tugasmu, lalu kau bersenang – senang ! Itu mau mu ?” tegasku
     “ Ya maaf aku tidak sengaha !” kata Arif
     “ Aku tidak peduli .. kamu egois. Kamu tak punya perasaan.” Jawabku. Laluaku meninggalkannya.
Saat pulang sekolah aku menceritakan kejadia semua itu kepada Ipah, teman sebangkuku. Ipah hanya tersenyum. Ia mengerti keadaank. Dan ia menghibur serta menasihatiku tentang jalan dari masalahini. Setelah kupikir – pikir aku baru menyadari bahwa selama ini akuhanya dijadikan pelampiasan dan pembantu Arif. Aku hanya dimanfaatkan saja. Dengan berpura – pura pehatian padaku, ternyata ia hanya berambisi saja. Kini aku tak akan mau menjadi suruhan Arif untuk mengenai tugas sekolah. Terserah apa katanya.
Sekarang aku menerima kenyataan salah hidupku. Bahwa menuruti keinginan sendiri itu tak selalu berjuang indah. Dan untuk saai ini aku akan selalu berfikir sebelum bertindak. Hatiku mulai sedikit lega. Huh ,, senangnya.
Saat disekolah Arif bertanya – tanya padaku mengapa akhir- akhir ini aku cuek padanya, tak seperti hari – hari biasa. Aku hanya tersenyum, dan menjelaskan semuaitu padanya. Ia tersenyum malu dan ia juga sempat minta maaf padaku. Pada akhirnya kami berteman seperti layaknya teman biasa. Pikirku lega..  SELESAI ... 

1 komentar: